untaian kata kepada dunia

Wednesday, September 3, 2014

Indonesia Bangga Punya Kamu

All forms of life that are capable are endowed with a soul, which impels them to seek what is good for their existence ~ Robin Kickpatrick

Haaeeee gaeees. Lama banget yha gak update blog :))
Mau cerita lagi yhaa gaeees...

Tahun ini Rumah Bimbel Senen (RBS) turut berpartisipasi di Jambore Sahabat Anak (JSA) XVIII di bumi perkemahan Ragunan. Dan alhamdulillah dapet kesempatan lagi jadi kakak pendamping adik-adik RBS.
Daaaan kabar gembira untuk kita semua. RBS dapet tenda terdisiplin, tenda terbaik, juara 1 karya anak indonesia sekaligus juara favoritnya :).


juara 1 dan juara favorit Karya Anak Indonesia
Jambore Sahabat Anak XVIII

Seneng? Pastinya.
Capek? Gak usah ditanya.

2 hari kemarin bener-bener momen yang W.O.W banget buat saya. Kenapa? karena walaupun tahun kemarin ikut jadi kakak pendamping tapi keterlibatan dalam mempersiapkan JSA gak terlalu dalam. Nah tahun ini sedikit lebih dalam.

Dari bikin hiasan buat tenda. Liat adik-adik latihan untuk tampil isi acara JSA. Ikut turun ke jalan "Like on The Road" sampe jam 3 pagi.

 Selfie duyu sama Rael "Si Ratu Selfie" bareng kak Pritha dan kak Dindha (cowok) :)))



Like On The Road tetep eksis ya brooo
ki-ka: dindha, uci, verdy, ai, uta

Semoga aja dari kemenangan ini adik-adik RBS jadi tau maknanya kerja keras. Bahwa gak ada namanya keberhasilan yang tiba-tiba. Bahwa kita tidak
 bisa berhasil sendirian. Semua keberhasilan pasti ada andil orang lain. Bahwa keberhasilan akan lebih indah jika kita meraihnya bersama-sama. Kalau bisa berhasil bareng kalian, kenapa aku harus berhasil sendirian? Semua ini berkat kerja keras penuh semangat adik-adik dan kakak-kakak RBS. So proud of you all, guys :")

Dari pengalaman 2 tahun jadi kakak pendamping adik-adik kesan yang didapat adalah betapa berharganya sebuah kesempatan. Mereka anak-anak jalanan, anak-anak marjinal yang serba kekurangan juga butuh wadah untuk mengaktualisasikan diri sebagai bukti mereka punya potensi.

Mereka juga bukti nyata bahwa pendidikan tidak hanya di sekolah formal. Pendidikan ada dimana-mana asalkan ada kemauan. Mereka punya pilihan untuk tetap di jalanan dan tidak ikut bimbingan, tapi mereka memilih setiap sabtu siang sampai sore untuk berada di RBS bersama relawan pengajar. Bangga dan salut kepada mereka.


 tenda tjut meutia





Semoga kalian tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan berkarakter dan bisa membawa kehidupan kalian dan keluarga ke tingkat yang lebih baik. Yakin. Insya Allah. Kalian pasti bisa :")

Indonesia Bangga Punya Kamu :")


Read More

Sunday, June 29, 2014

The Port Lady and The Quirky Sailor Man

Once upon a time there was a lady who had port. She was well known as the Port Lady. For years there were sailor men who anchored their ships at her port.

She met one sailor man who had anchored his ship there for many years.  A sailor man whose ship she thought would be the last one anchored at her port. But she was wrong. As the time flew, somehow they thought of another port which was better and fitter for that sailor's ship and that her port might be a better fit for another one.

Though  she knew it, she couldn't help for being sad,  parting with the one she knew for long. Should she have to change her port so it could fit that sailor's ship? At the same time she was anxious too, what if there would be no ships coming to her port anymore? For the world already knew that her port had already reserved for that sailor's ship.

But once again.
She was wrong.
 

One day there was a quirky sailor man sailed around her port. He didn't intend to anchor his ship at her port and she didn't expect anyone to sail their ship near  it. But when the quirky sailor man entered and anchored his ship at her port, it fitted well. The Port Lady then realized she didn't have to have any worry about her port being empty anymore. And the quirky sailor thought he didn't need to bother looking for another port because this one was a perfect fit.

But life had another plan. Suddenly hurricane came with anger. The quirky sailor said nothing to the Port Lady but "So this is good bye then"  and he sailed away, leaving the lady and her empty port. She did nothing but cried for the goodbye word was thing she hated the most. She thought the sailor wouldn't come back. But to her surprise, view months later, came a letter from him to say apology.

She was happy yet confused. She couldn't go sailing, looking for him. She couldn't go roaming and leave her port. She needed to stay so she could keep it for the quirky sailor's ship. But how long would she have to wait? What if he couldn't make it his way back to her port?  In the end, the Port Lady decided that it would be better to wait.
She could only pray for his safety from every hurricane he faced before eventually he could come back and anchor his ship, safely, at her port, forever.
Read More

Tuesday, March 25, 2014

Jump For Joy

...because when you care, you share ~ anonymous


Entah kapan dan dimana baca kalimat itu, atau juga omongan seseorang..lupak. Tapi sampe sekarang semacam jadi pegangan hidup buat saya.

Naah beberapa minggu lalu di grup WA kos si bebeb aku share picture ini


Pas liat tag line nya langsung dong tanpa pikir panjang pokoknya mau ikuuuuut
Padahal ya ini acaranya bebeb sama temen-temen kampus nya. Gak tau malu aja gitu pingin ikut.. beeeb aku ikut ya beeeb. Gak mau cuma nyumbang doang tapi pingin ikut dateng juga. Alhamdulillaah dapet temen baru baek hati cantek dan ganteng pulak #lovestruck. 

Nah pas hari H di panti asuhannya agak kaget juga soalnya masih pada kecil banget, batita sampe balita gitu lah. Kebayangnya kan kayak RBS gitu. Selama kurang lebih 2 jam di sana seneng banget lah bisa bantuin ngasuh ngajakin main adik-adik nya. Terlebih anak-anak yang di panti atau jalanan itu emang butuh perhatian lebih dan mereka tau orang-orang mau kasih ke mereka jadi cenderung kolokan. But that's fine! I'm happy :)

Mungkin ketika temen-temen lain dapet kesempatan main dan ngasuh adik-adik jadi kepikiran pingin punya anak sendiri ya, kalo aku sebaliknya. Maksudnya bukannya gak mau punya anak, mau banget malah. Tapi sih jadi mikir lagi beneran mau punya anak sendiri, hamil, melahirkan, gitu. Kenapa gak adopsi aja ya. Sempet kepikiran gitu sih. Karena ironis gitu, kebanyakan dari mereka dibuang sama orang tuanya dari bayi. Kok tega gitu ya. Aku yang bukan siapa-siapa mereka aja meleleh pas natap mata mereka. Kids are indeed pure souls.



Yeaaaah what a great weekend. 

Thanks ya bebeb Tia, Yoga, Wily, Laura, Santi, Sinta, Niar, Benino, Dody, Kunthi for allowing me join this event :))

http://wearejumpforjoy.wordpress.com/2014/03/25/semangat-berbagi-semangat-peduli-di-panti-sosial-asuhan-anak-balita-tunas-bangsa-cipayung/#respond

Read More

Thursday, March 6, 2014

topeng

Pernahkah kau merasa?
Ketika berada di tempat berbeda, dirimu menjadi orang yang berbeda pula?

dahulu pernah berpikiran bagaimana bisa bertopeng berbeda pada kesempatan berbeda pula
Sama saja itu namanya bermuka dua

tapi ternyata seiring bertambahnya usia
tersadar akhirnya
itu semua bukan tanda muka dua

bukan tanda kita tak punya jati diri
tapi menghargai siapa dan apa yang kita hadapi
atau... malah... bisa jadi tanda kematangan diri

jangan kira selama hidup kita hanya punya satu muka
kita tak ubahnya seekor bunglon yang berubah kulit menyesuaikan di mana dia berada
kita tak ubahnya pemeran sandiwara yang selalu berganti peran di panggung berbeda

jangan terusik dulu
mengira itu menjadikan aku tak punya jati diri tak tahu malu
lalu linglung siapa sebenarnya aku

karena begitulah adanya
pada akhirnya kita memungut topeng-topeng yang berserakan
menyatukannya...mendefinisikannya sebagai kita

Read More

Wednesday, January 29, 2014

The Calling

Labbaikallahuma Labbaik, Labbaika La Sharika Laka Labbaik, In-nal-hamda, Wan-ni'mata, Laka Wal-mulk, La Sharika Lak.




Pertengah 2012 kemarin sempet pingiiin banget bisa bertandang ke baitullah. Umroh aja deh dulu ya Allooh 2013 atau 2014 deh ya Allaah. Cuma kan melihat kondisi keuangan waktu itu kayaknya gak memungkinkan akhirnya mung mbatin tok. Naah tengah 2013 diajakin umroh sama orang tua dan berangkat awal 2014. Alhamdulillaah.

Suka terkagum-kagum sendiri sama hidup ini. Pas kita mikir kita gak bisa, aah kita punya apa sih..it's out of our league. Ternyata entah datang dari mana kemudahan datang gitu aja. Emang bener rejekinya Allah itu datang darimana aja gak kita sangka dan gak bisa kita itung. Alhamdulillaah.

Mau cerita dikit yaa sampe akhirnya berhasil memenuhi panggilanNya.
Setelah dikabarin kalo orang serumah mau umroh aku semangat dong..aku juga daftarin dooong. Ntar kamu gak dapet ijin...aaah dapet dapet udah dapet cuti kok kan udah setahun. Pokoknya ngebet banget pingin umroh. Apa pasal? Karena berasanya level iman lagi low banget. Butuh suntikan rohani bangets. Dari kerjaan sampe percintaan. Butuh keluar dari rutinitas. Segera.

Tapi gak ada impian yang tercapai tanpa ada halangan kan ya. Naaah ini dia..
Halangan #1
Pas ditanya paspor ternyata paspor ku gak ada. Belum pernah dipake. Padahal yakin nyimpen di kamar di jogja di rak barang-barang penting dan gak ada dong. Yasudin langsung bikin paspor baru minta diurusin temennya temen yang kerja di imigrasi Jak Pus. Dan ngurusnya lamaaaaa banget. Sabar sesabarnya deh gue. Gak taunya paspor lama ketemu, pas nanya ke temen paspor baru gak usah diproses katanya jangan..ntar kamu malah gak bisa going abroad lagi ci seumur idup..yudah tetep proses paspor baru..lamaa bangeeettts..sampe detik terakhir satu minggu sebelum berangkat baru jadi..belum lagi ngurus visa..dan ternyata sama bapak proses daftar umrohnya pake paspor lama udah dapet visa pulak...mak jegeeer..pening awak.

pas hari H bapak nyamperin ngasih paspor baru. Nih dipegang dulu kamu tetep pake paspor lama udah ada visanya..kalo ditanya baru keluarin paspor baru kalo gak ditanya ya udah gak usah dikasih paspor barunya. Mencelos gueeeh. Kalo gak bisa berangkat gimanaaaa...akhirnya pas lewat imigrasi lolos dong..alhamdulillaaaaah.

Berasanya kok kayaknya susah banget ya mau bertamu ke rumah Allaah. Tapi ya dites kali ya sepingin apa aku pergi ke sana..dibikin susah masih mau gak pergi. Alhamdulillaah masih.

Kan katanya hanya orang-orang yang berakal yang mampu memetik pelajaran. Nah pingin dong termasuk ke dalam orang-orang beruntung yang berakal.

Pas tawaf, sempet kepikiran kenapa sih kita kudu tawaf ngiterin ka'bah..menyerukan namaNya. Pas tawaf ke sekian baru ngeh kalo ketika kita tawaf ya itu lah kehidupan kita. Semacam refleksi kehidupan dalam skala kecil tapi maknanya sama. Bahwa hidup kita itu berputar. Bahwa dalam hidup harus terus maju. Bahwa rintangan dijegal orang disikut orang itu biasa tapi kita kudu tetep maju. Bahwa kita gak bisa berdiam saja yang ada malah digencet orang dan digerus waktu. Kita bisa berdiam tapi dunia dan isinya tetap bergerak berputar. Bahwa kalau kita melawan apa yang sudah digariskan bukan hal yang bijak, karena bisa jadi semua sia-sia dan meninggalkan luka. Sesuatu yang sudah fitrahnya pasti akan kembali ke fitrahnya. Bahwa hidup itu ada saatnya selo ada saatnya kerja keras, ada orang yang memutuskan untuk menikmati keseloannya ada juga yang memanfaatkan untuk mempercepat langkahnya untuk  mencapai mimpinya. Dan pikir ku gak ada yang salah dengan itu semua. Bahwa ada yang menjegal menyikut orang lain dalam perjalanannya mencapai tujuannya, ada juga yang sampai ke tujuannya tanpa menjegal dan menyikut siapa-siapa. Kalau kita melapangkan jalan orang lain, jalan kita akan semakin lapang kok. Itu fitrah. Bahwa sejauh apa pun kita mengembara akhirnya kita akan "pulang" kepadaNya.

Dan udah umum banget kan ya kalo pas di tanah suci kudu jaga omongan pikiran dan hati. Dan bener banget karena omongan suka seenaknya mikir juga seenaknya akhirnya kena batunya.

Kayak waktu di masjid nabawi, ada tempat yang namanya rawdah. Suatu tempat antara mimbar rasulullah SAW dengan rumahnya, dan menurut riwayat "bahwa antara mimbar ku dan rumah ku adalah taman surga" dan katanya itu salah satu tempat mustajab untuk berdoa. Dan untuk cewek ada jam khusus kalau mau berkunjung ke sana, aku ke sana 2 kali, 1 kali gagal, 1 kali berhasil, waktu berhasil itu sempet males-malesan karena sungguh berdesak-desakan melebihi antrian BLT. Disikut sana-sini, sampe mbatin dih gini amat sih mau sholat di sini mau berdoa, malesin banget dah, eeeh gak tau nya tiba-tiba mundur aja gitu dong..dipotong orang padahal udah setengah jalan..berasanya kayak dibilangin sama rasulullah SAW "heeeh lo kalo gak mau ribet gak usah ke sini, lo gak liat orang dari seluruh dunia berbondong-bondong ke sini mau berdoa di sini rela desek-desekan, kalo lo gak mau ya udah pergi sono, masih banyak yang mau kalee" berasanya kayak diomongin gituuu. Langsung makjedeg dongs...langsung istighfar deh..alhamdulillaah bisa sholat dan berdoa di sana. Maap ya Allah SWT.

Trus pas di masjidil haram kan juga banyak orang tu..naah yang pada pake ihram kan gak pake wangi-wangian kan ya..dan aromanya itu yaaa...ya Allah..dan sampe keucap sama aku..semacam bau prengus kalo orang jawa bilang. Aku makan berasa prengus, papasan sama orang berasa prengus..eeh sampe hotel berasa prengus juga..kenapa sih prengus melulu..trus bapake bilang...kamu sih prengas prengus melulu, minta ampun sanah. Makjedeg lagi dong. Semenjak itu udah gak berasa prengus kemana-mana kalo pas papasan aja. Fiuh...

Nah pesan moralnya adalah ya harusnya hidup itu gitu, yang diomongin kudu positif yang dipikirin kudu positif. Bisa jadi ni ya bisa jadi apa-apa aja yang terjadi dalam hidup kita yang kita anggap sebagai kemalangan kesialan ya sebenernya itu buah dari pikiran negatif kita dalam memandang hidup. Ya jadi kalo pingin hal-hal positif dan kebaikan mendatangi kita ya berkata-kata positif lah ya berpikir positif lah.


Yaa begitu lah sedikit pelajaran yang berhasil dipetik dari perjalanan kemarin, semoga bermanfaat buat kita semua..aamiiin.


It's very nice to go travelling but it's much nicer to come home ~

Read More

Sunday, November 10, 2013

Random

Saya percaya rumah itu ditemukan di dalam. Kalau di dalam damai, semua tempat bisa jadi rumah kita." - Ibu Inga (Partikel by Dee Lestari)


I have been living in Jakarta for almost a year. I live in a place which is well known as "rumah kost" and my kost named 2nd home. The funny thing about it is it literally feels like 2nd home to me.


Why it feels like literally 2nd home to me? We're gonna get there but first let me tell you this...
I was living by moving from 1 city to another city. Was born in jogja, then spent my childhood in Bangka for 6 years then moved to banjarbaru kal sel and lived there for 9 years. So yeah i spent my teenager there. Then when i was in senior year in my senior high school (tough time, i have to admit) i moved to jogja in 2005 then moved to Tangerang in 2012 to work then finally, now i live and i work in jakarta.
What's my opinion about moving from the place we love to the place we don't know? And we tend to be inconvenient to something we don't know. Something's unusual and strange.
Usually we're afraid to move because it's far from home. It makes us far away from our family and the fact that we don't have family or anyone we know who lives there.


Here's my opinion
Don't be afraid. If you don't have family there, then make one.

Terkadang kita mengecilkan arti "keluarga" hanya mereka yang memiliki hubungan darah dengan kita.
Hidup berpindah-pindah dari kecil dan jauh dari keluarga besar mengajarkan saya bahwa rumah itu dimana saja. Keluarga itu siapa saja  dan dimana saja. Mereka adalah orang yang ada di saat terbaikmu dan terburukmu. Yang pertama tak ragu membantumu ketika membutuhkan pertolongan dan turut berbahagia ketika kita mendapat kebahagiaan.
Nah itulah yang membuat saya merasa beruntung karena kemana saja kaki saya menjejak saya mempunyai keluarga baru.  Salah satunya adalah 2nd home.
Ada mb sari (yang sekarang udah pindah) , mb kevin, mb erly, indah, dian, tia, winda, riri. Dan semuanya dengan keunikan sifat masing-masing jadi bikin kostan tambah seru. Rasanya sampe pingin bikin tv series "2nd home".


Yang paling seneng adalah kita selalu menyempatkan untuk saling ngobrol ketika sampe kostan. Malah kadang suka kebablasan kayak beberapa hari ini. Ngobrol sampe dini hari. Apalagi kalau sama tia yang sama-sama seneng deep talk..bisa ampe lupa waktu :D


Kayak tadi ngalor ngidul ngomongin kehidupan sosial kita. Umum lho ya. Bukan antara cewek dan cowok. Kok berasanya kita itu kayak "the reacher" ya. Yang berusaha untuk menjaga agar hubungan tetap terjalin. Kayak sering banget telepon, berkabar-kabaran, berinisiatif dan sangat bersemangat ngajak ketemuan. Sampai pada satu titik kok rasanya yang butuh kok aku doang.  Yang pingin jaga hubungan kok sini doang. Sampai pada akhirnya mencapai titik lelah dan tidak berusaha menjadi the reacher lagi. Pernah ngerasa gitu gak?


Saat kita berada di satu lingkungan dan kita sangat akrab dengan orang-orang di dalamnya kemudian keadaan memaksa kita berpindah ke lingkungan lain dan menyebabkan kita berpisah. Pastinya kita akan merasa kehilangan.  Merasakan euforia kesedihan karena tidak bisa bersama lagi.
Kemudian kita berjanji untuk tetap menjaga silaturahmi. Merencanakan pertemuan kembali. Bersemangat merencanakan semuanya. Dan yang lain pun menyetujuinya.  Namun tiba-tiba semua menguap entah kemana. Yang ada hanya kata-kata manis gombalan semata.
Euforia kesedihan perpisahan.


Pernah mengalami?
Saya cukup sering  - thanks to mobile life-live here-move there
Mungkin itu juga yang menyebabkan saya sangat pemilih dalam menentukan siapa saja yang berhak berada dalam inner circle saya.

I always look like I'm surrounded by friends, but it's hard for me to truly let anyone in my life.
I open my heart to the world but at the same time i build a wall around it.

Because finally we will realize those who want us to be in their lives and those who don't.  And we cannot force them to let us come in to their lives.  So the best way is stop trying to reach and force them.
And vice versa. We will realize those who we want them to be in our lives and those who we don't want them to be. But we cannot force them to be in our lives.

So, be wise. There's a time we need to be the reacher.  There's a time we need to be reached. 

*notez-bien: pikiran loncat-loncat disebabkan insomnia yang lagi-lagi melanda :p
Read More

Thursday, October 24, 2013

Pra Jabatan Golongan 3 Kemenkeu 2013: 24 Hari untuk Selamanya Chapter 2

Holah pemirsah, jumpa lagi dengan saya di blog kita tercinta *cup cup muhmuah*
Mari kita melanjutkan cerita cita dan cinta kita di diklat pra jabatan kementerian keuangan golongan 3 2013.
Jadi yaaa kita prajab itu kan 3 minggu. Jadwalnya padetnya ampun deh amit-amit naujubilah.

asrama tercinta

Jam 5 pagi udah olahraga. Jangan bayangin olahraga unyu gitu. Lari muter lapangan. Jalan JONGKOK *malesin sumpah* push up, sit up, ditambah ada baris berbaris. Sungguh aku tak habis pikir kenapa dulu bisa begitu bergairah sama baris-berbaris -_-".




Kelar olga langsung ke asrama mandi bebek. Sungguh pemirsah tidur dan mandi dengan leluasa tak dibatasi waktu itu suatu kenikmatan tiada tara. Udah gitu baris depan asrama buat siap-siap makan. Nyampe depan ruang makan baris pula buat masuk ruang makan. Kami kan ber129 orang dibagi 5 kelas A-E. Dan masing-masing kelas punya meja makan sendiri-sendiri, kayak hogwards gitu. Bedanya kalo mau makan kita antri lagi bukannya langsung *criiiing* udah tersedia semua makanan di atas meja. Sebelum makan ada satu orang yang mimpin berdiri di tengah-tengah yang kita sebut piket siswa.


antri makan tetep poto duyu yuuu




piket: duduk siap, grakkk!!!
siswa: bruk *menghentakan kaki ke bumi*
piket: sebelum kita makan marilah berdoa menurut keyakinan masing-masing. berdoa mulai
siswa: *nunduk*
piket: berdoa selesai. istirahat di tempat grak!!!
siswa: *bruk* selamat makaaaan


kelarnya juga gitu
piket: duduk siap, grakkk!!!
siswa: bruk *menghentakan kaki ke bumi*
piket: selesai makan berdoa mulai
siswa: *nunduk*
piket: berdoa selesai. istirahat di tempat grak!!!
siswa: *bruk* trima kasiiiih



Kelar makan antri lagi buat naro peralatan makan. Baris lagi depan ruang makan buat masuk kelas. Enaknya kelas C itu deket sama ruang makan dan asrama jadi gak jauh lah kalo jalan :D. Nah selama pra jab kita dapet sekitar 13 mata kuliah yang setiap mata kuliahnya dimulai dari jam 8 pagi sampai 6.30 sore. Iyesss bosen banget. Tenang aja nanti bakalan ada post tentang tips dan trick bertahan dalam kelas pra jab ;)

Nah ada satu mata kuliah yang berkesan banget buat aku pribadi. Pelayanan Prima yang diampu oleh ibu Linda. Sehari sebelumnya beliau ngajar perkantoran modern, nah harusnya sih Pelayanan Prima ini diajar sama dosen lain, tapi berhubung satu dan lain hal beliau gak bisa dan digantikan oleh ibu Linda. Yang mana saya sungguh bersyukur sodara-sodara :")

Pengalaman diampu oleh bu Linda bener-bener ngebekas banget buat aku pribadi. Bisa dibilang ini salah satu momen terbaik selama di prajab. Another best moment nya adalah mengunjungi sekolah luar biasa lebak bulus.


We visited them, we wanted to know how they live with their disabilities. Some can't hear, some can't see, some have autism and or down syndrome. I have just realized when i visited them. How pure their souls are. How sincere they are. We live in a universe which teachs us that giving means virtue and strong and receiving means evil and weak. We want to be known as a strong person, not a weak one. We are taught that we need to have a big and kind heart, sincere when we give something to others, but we forget that we need to have a bigger and more sincere heart to accept other's helps.  But these kids opened my eyes and my heart that giving is not always virtue and receiving is not always bad thing.

I tried to walk on their shoes. What if i were them. I had disabilities. I couldnt hear. I couldnt see. And there were bunch of people who named theirselves as "normal" people wanted to respect and appreciate their "normal" lives by visiting me. Making them realized that they should be grateful of what they have had. I felt like i was a member of circus  who played the show and they watched and hey, people, just enjoyed the show!!!

What about them? Instead of being suspicious and skeptical, they were accepting us sincerely, without any judgement. We played, laughed, cried together. Jadi bertanya pada diri sendiri, ini yang normal sebenernya siapa? Dan betapa sombongnya orang-orang yang memiliki segala ini menamakan diri mereka normal dan yang tidak seperti mereka tidak normal.

Jadi bertanya pada diri sendiri. Gimana kalau sedang kesusahan dan ada orang yang dengan tulus ingin membantu datang ? Apa yang sering kita lakukan? Menolak bukan? for the sake of not wanting to be known as a weak one. Menolak karena tidak mau merepotkan orang lain.  If we have love for each other, do you consider it as "ngerepotin"? Helping and caring each other are the acts of love, i think.

Atau malah curiga, ini orang baik maunya apa? Penuh curiga. Baru ngeh betapa kotornya hati dan pikiran kita. Sedang mereka yang hidup penuh dengan keterbatasan malah menyambut kita dengan tangan dan hati terbuka. Tanpa curiga.

Malu.


Melihat bagaimana mereka menyambut kami dengan suka cita tanpa merasa dikecilkan bener-bener menunjukkan kalau hati mereka bersih. Emang segala yang datang dari hati pasti menyentuh hati juga. Gak heran lah mereka bisa menyentuh hati kami :")
keep smile :))))


Terakhir saya dan teman-teman sekelompok mengunjungi kelas tuna netra yang isinya hanya 2 orang. Aya dan ..maap saya lupa -_-"..mari kita sebut saja dia Udin. Mereka berdua berumur sekitar 6-7 th. Selain tuna netra mereka juga autis. Waktu kami masuk Aya sedang belajar huruf braille, nyoblos-nyoblos gitu sedang si Udin sama gurunya ngobrol-ngobrol. Awalnya semua berjalan lancar tapi tiba-tiba Aya tantrum, ngamuk gak jelas, cetakan braille dilempar, tusukannya dilempar, kursi dilempar dan teriak nangis mau pulang. Guru dan kami pun bingung, akhirnya Aya saya peluk dan saya pangku, dan seketika itu juga tenang. Well, ternyata gak sia-sia follow Alissa Wahid dan Urban Mama di twitter, jadi tau gimana ngadepin anak tantrum..heuheu
Jadiiii kalau ada yang tantrum mohon dipeluk eeaaaah *kode banget*

Saat itu hati saya miris sekali. Gadis sekecil ini sudah harus mengalami hal sedemikian berat dalam hidupnya. Berapa dari kita yang merasa takut, hampa, kosong ketika dalam kegelapan? Bahkan tidur pun harus ditemani cahaya terang benderang. Sedang Aya tidak bisa melihat ditambah lagi autis. Dan tambah miris lagi ketika ingat, kita yang mengaku normal dan dalam keseharian dengan mudahnya mengolok teman yang asyik sendiri dengan gadgednya, yang sangat menikmati waktu dengan dirinya sendiri "diih autis deh lo" yang mencandai temannya yang kelakuannya "sangat" menyenangkan, have fun, laugh together as a "cacat" one.

Pernah kepikiran gimana orang yang beneran autis dan yang beneran cacat menjalani kehidupan mereka? Pernah kepikiran apa yang dirasain dan kehidupan macam apa yang dijalani keluarga mereka?
We have no idea, right?
Then, stop using those words as a joke in our social life.

Sedih.

Kelar dari SLB kami balik ke kelas dan berbagi kesan pesan yang di dapet setelah dari sana. Pada intinya sih jadi lebih bersyukur atas apa yang kita punya. Bisa dibilang seberat apa pun masalah kita kalo dibandingin sama mereka, apalah artinya kan ya? Kita masih bisa melihat, mendengar, berbicara.
Tau Helen Keller kan. Beliau adalah seorang humanis, philanthropist dan seorang tuna rungu, tuna netra, tuna wicara. Beliau mendapat gelar sarjana dan menguasai 5 bahasa. Malu banget sama diri ini yang jangankan fasih bahasa Inggris, bahasa Indonesia aja suka belepotan -_-".
Ini quote dari beliau yang ngena banget buat aku, dan selalu kepake kalo lagi ngerasa down ato mikir kok hidup ini gini amat sih

 begitu banyak yang telah diberikan kepada saya, saya tak punya waktu untuk memikirkan apa yang tidak saya miliki

Trus lagi semakin nyadar kalo "tidak normal, cacat, dll" itu bukan padanan kata yang pas untuk mereka. Karena dibalik segala kekurangan fisik dan mental yang mereka miliki, mereka sama normalnya dengan kita. Mereka adalah orang-orang luar biasa karena dengan kekurangan yang mereka miliki mereka masih bisa menjalani hidup mereka dengan baik, tetap semangat, tidak putus asa dan malah tidak sedikit dari mereka yang berprestasi. Bow down for them :")




God is both all-powerful and morally perfect, he must have created the best possible world. God could not have created a world that wasn't the best - Leibniz

Read More

My Blog List

Powered by Blogger.

© 2011 L'histoire de Ma Vie, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena